Oleh: hnindito | Desember 28, 2009

FAKTOR SUKSES KNOWLEDGE MANAGEMENT

KM/KMS yang sukses harus melakukan fungsi dari pembuatan pengetahuan, penyimpanan dan pemanggilan, transfer dan aplikasi. Namun beberapa factor akan mempengaruhi kesuksesan KMS. Keberhasilan KM diukur dengan menggunakan dari dampak terhadap proses bisnis, strategi, kepemimpinan, efisiensi dan efektivitas proses KM dan konten pengetahuan.

  • Infrastruktur teknis terpadu termasuk jaringan, database / repository, computer, prangkat lunak dan para ahli KMS
  • Strategi pengetahuan yang mengidentifikasi pengguna, tingkat kebutuhan pengguna berpengalaman, sumber proses, strategi penyimpanam dan link ke pengetahuan untuk KMS
  • Struktur pengetahuan luas yang diartikulasikan dengan jelas dan mudah dimengerti.
  • Motivasi dan komitmen dari pengguna termasuk adanya insentif dan pelatihan
  • Budaya organisasi yang mendukung proses belajar dan berbagi pengetahuan
  • Dukungan manajer senior termasuk alokasi sumber daya, kepemimpinan dan memberikan pelatihan
  • Langkah-langkah yang dibuat untuk menilai dampak dari penggunaan KMS, sebagai sarana untuk memverifikasi pengetahuan
  • Tujuan KMS bagi yang jelas
  • Organisasi pembelajaran
  • Pengetahuan yang mudah digunakan, didukung oleh fungsi pencarian dan visualisasi dari KMS.
  • Proses kerja yang dirancang untuk menggabungkan pengetahuan dan menggunakannya.
  • Keamanan / perlindungan pengetahuan

 Hal-hal diatas berguna untuk mengidentifikasi factor sukses KM, namun akan lebih baik mengekspresikan factor sukses dalam sebuah model yang  menghubungkan factor dan keberhasilan penerapan KM. Dalam paper ini akan dibahas model-model sukses factor yang ada, yaitu model sukses Bots dan de Bruijn, Massey, Lindsey, Jennex dan Maier.

Oleh: hnindito | Desember 28, 2009

PENGERTIAN KNOWLEDGE MANAGEMENT

Menurut Holsapple dan Joshi (2004), Knowledge Management (KM) dianggap sebagai suatu entitas yang sistematik yang berupaya untuk memperluas, mengolah dan menerapkan pengetahuan yang tersedia dengan cara memberikan nilai tambah pada entitas dalam mencapat tujuannya.

KM akan lebih baik dipahami ketika konsep memori organisasi (OM) dan organisasi pembelajaran (OL) dimasukkan. Jenex dan Olfman (2002) mengemukakan bahwa tiga bidang tersebut saling terkait dan memiliki dampak terhadap efektivitas organisasi. Efektivitas organisasi adalah seberapa baik organisasi tersebut beraktivitas untuk membuat organisasi lebih kompetitif. OL adalah proses yang digunakan organisasi untuk belajar membuat aktivitas menjadi lebih baik. OL akan berhasik jika penggunanya memanfaatkan pengetahuan.

Knowledge Management System adalah system yang diciptakan untuk memfasilitasi penangkapan, penyimpanan, pencarian, transfer dan penggunaan kembali pengetahuan. Alavi dan Leidner (2001) mendefinikan KMS sebagai “IT (Information Technology)-based systems developed to support and enhance the organizational processes of knowledge creation, storage/retrieval, transfer, and application.”. Tidak semua KM di implementasikan dengan IT, namun keberadaan IT menjadi enablerimplementasi KM.

Alavi dan Leiner (2001) mengklasifikasikan KMS berdasarkan siklus hidup knowledge yang terdiri dari empat tahap yaitu tahap pembuatan knowledge, penyimpanan dan pemanggilan knowledge, transfer knowledge, aplikasi knowledge.

Marwick (2001) mengklasifikasikan KMS berdasarkan suatu model yang dibuat oleh Nonaka (1994) yaitu Sosialisasi, Ekstrenalisasi, kombinasi dan internasionalisai (SECI)

Borghoff dab Pareschi(1998) mengklasifikasikan KMS berdasarkan arsitektur manajemen yang terdiri dari empat kelas komponen yaitu  repositories dan libraries, komonitas knowledge worker, knowledge mapping dan knowledge flows.

Hahn dan Subramani (2001) mengklasifikasikan knowledge berdasarkan sumber yang disupport yaitu artifak terstruktur, individual terstruktur, artifak tidak terstruktur dan Individual tidak terstruktur.

Binney (2001) mengklasifikasikan KMS berdasarkan spectrum knowledge. Spektrum ini merepresentasikan batasan dari suatu tujuan, dapat berupa transaksional KM, analitikal KM, basis proses KM, pemgembangan KM , inovasi dan kreasi KM.

Zack (1999) mengklasifikasikan KMS secara integrative sebagai fasilitas transfer knowledge eksplisit dan secara interactive sebagai fasilitas media transfer tacit knowledge.

Hal yang perlu dicermati adalah pengukuran model sukses dari KMS. Turban dan Aronson (2001) mengemukakan tiga hal sebagai berikut:

  • Menyediakan basis value bagi perusahaaan
  • Menstimulasi management agar focus pada hal-hal yang penting
  • Menjustifikasi investasi dari aktivitas KM

Dua pendekatan dasar yang digunakan untuk menentukan keberhasilan knowledge management :

  • Pertama dilihat pada efektifitas implementasi proses KM sebagai indicator sukses pelaksanaan, dengan harapan bahwa proses yang efektif akan mengarah pada penggunaan pengetahuan. Metode pendekatan ini akan mengidentifikasi keberhasilan penerapan KM dari faktor sukses nya
  • Kedua dengan melihat dampak dari pelaksanaan KM atau KMS, dengan harapan
    bahwa jika ada dampak dari menggunakan pengetahuan, maka implementasi KM atau KMS berhasil.

Kunci dari KMS adalah repository pengetahuan. Terdapat tiga tipe repository pengetahuan, yaitu dokumen berupa kertas, dokumen berbasi data / computer, self memory dimana dapat berupa dokumen kertas ataupun data computer yang dipelihara oleh individual.

Oleh: hnindito | November 28, 2009

Alih Daya Teknologi Informasi

Model Layanan Baru

Dewasa ini banyak perusahaan yang menggunakan teknologi informasi dengan cara membayar bulanan pada penyedia layanan. Pada saat infrastrukturnya mengalami masalah, maka perusahaan tersebut dapat menggunakan penyedia jasa layanan untuk memperbaikinya. Jenis layanan ini disebut layanan alih daya. Layanan alih daya yang lain antara lain penyedia jasa hosting untuk penyimpanan data ataupun juga alih daya dibidang tenaga ahli tertentu. Keuntungan perusahaan dengan menggunakan model layanan alih daya antara lain :

  • Mengatur spesialis pekerja IT dalam jangka pendek

Perusahaan alih daya membantu dalam penyediaan tenaga ahli dalam waktu kontrak yang pendek. Hal ini sangat membantu perusahaan menengah kebawah dalam pemenuhan tenaga IT yang profesional.

  • Mempercepat time to market

Perusahaan dapat mempercepat proses yang berkaitan dangan teknologi, misalkan untuk mempublikasikan web page yang berisi informasi produk tertentu dapat dilakukan dengan hosting pada penyedia layanan. Sehingga perusahaan tidak perlu membeli perlengkapan infrastruktur ataupun membangun fasilitas yang lain.

  • Beroperasi 24×7

Konsumen berharap dapat mengakses informasi setiap saat. Hal ini membutuhkan dukungan infrastruktur dengan spesifikasi yang tinggi dan investasi yang cukup tinggi dimana kebanyakan perusahaan tidak menyediakannya. Hal ini dapat di alihkan ke penyedia alih daya. Perusahaan alih daya dapat menyediakan layanan tersebut dan mennggunakan pada beberapa perusahaan sehingga masih didapat keuntungan.

  • Profil cash flow yang lebih sesuai

Dengan melakukan subskripsi pada penyedia layanan alih daya, perusahaan hanya membayar service teknologi informasi sesuai dengan yang digunakan, tanpa harus memikirkan biaya investasi diawal ataupun biaya pemeliharaan.

 

 

  • Pengurangan biaya pada pembaruan layanan IT

Layanan terpusat dapat mengurangi biaya pada bisnis pada banyak cara, salah satunya adalah dalam pemutakhiran perangkat lunak. Dengan layanan terpusat proses ini dapat menghemat waktu. Selain itu layanan ini juga mengurangi resiko perangkat lunak piracy karena scara fisikm CD program tidak di distribusikan.

  • Aplikasi yang dapat diakses secara global

Aplikasi dapat diakses melalui internet sehingga tidak terdapat lagi batasan geografis dan juga dapat diakses melalui web browser ataupun peralatan telepon genggam. Hal ini merupakan nilai tambah yang bisa didapat dengan menggunakan layanan alih daya.

Keuntungan dari aplikasi layanan melalui internet tidak semata disebabkan oleh layanan alih daya, tetapi juga karena penggunaan teknologi untuk meningkatkan efisiensi dalam penggunaan computer. Model teknologi ini adalah On Demand, utility computing dan grid computing.

Teknologi On Demand, Software as Service, Utility dan Grid Computing

Definisi dari teknologi On Demand, Saas, Utility dan Grid memiliki arti yang luas, namun para ahli berpendapat bahwa definisi-definisi tersebut mengakomodir hal-hal berikut :

  • Model finansial yang membuat layanan Teknologi Informasi memiliki resiko lebih rendah dalam hal pengadaan dan  pemeliharaan berdasarkan suatu kontrak persetujuan.
  • Restrukturisasi dan reengineering aplikasi yang sedang berjalan untuk mempermudah diatur dan digunakan
  • Enhancement infrastruktur untuk meningkatkan interoperability dan penggunaan aset komputer secara efisien.

Pada level infrastruktur, on demand, Saas, utility dan grid computing mengacu pada pemanfaatan kapasitas tempat penyimpanan sebagai resource yang mudah di alokasikan pada peralatan yang beragam dan digunakan secara bersama-sama.

 

 

 

Manajemen Resiko Melalui Alih Daya

 

Setelah layanan IT stabil, perusahaan akan memilih layanan berikut yang akan di alih dayakan. Layanan IT yang unik dan utama bagi perusahaan, pelaksanaan dan pemeliaharaannya tidak akan di alih daya kan. Sebab penyedia alih daya bisa saja menjual service nya ke perusahaan kompetitor.

 

Dasar pemikiran dari keputusan layanan yang akan di alih daya secara bertahap sama dengan dasar pemikiran untuk melakukan alih daya terhadap fungsi IT secara keseluruhan. Namun ada perbedaannya, dengan melakukan alih daya secara bertahap resiko ekonomi tidak sebesar dan sepotensial dari kesalahan manajemen yang mungkin terjadi. Ketika perusahaan melakukan alih daya untuk fungsi-fungsi penunjang, hal itu akan mengurangi resiko kegagalan bisnis dan pemborosan dibidang finansial.
Model alih daya secara bertahap memang memberikan peluang yang menarik bagi para manajer untuk melakukan pengembangan di bidang teknologi informasi. Dengan model ini resiko dapat di atur secara bertahap.

Membuat Rancangan Kontrak Aliansi Alih Daya

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam membuat kerjasama dengan penyedia jasa layanan alih daya adalah sebagai berikut :

  • Fleksibelitas kontrak

Evolusi teknologi, perubahan kondisi ekonomi dan teknologi layanan baru akan menjadi perubahan yang tidak bisa dihindarkan selama masa kontrak dengan pihak penyedia jasa. Didalam kontrak opsi untuk evolusi teknologi harus diperhatikan. Karena suatu kontrak memungkinkan dilakukan penyesuaian maka aspek nonteknis dalam kerjasama juga bisa dipertimbangkan. Suatu kerjasama akan berhasil jika ada kesamaan tujuan yang saling menguntungkan dan ada pendekatan yang dilakukan bersama dalam pemecahan masalah.

  • Standarisasi dan kontrol

Biasanya inovasi di bidang teknologi informasi menjadi suatu hal yang menjadi kunci sukses bisnis suatu perusahaan. Perjanjian dengan penyedia layanan alih daya harus mengutamakan hal ini. Kontrol merupakan bagian terpenting pada tahap ini, bisa saja ada pihak ketiga misalkan pihak asuransi untuk menjamin bagian ini. Pada suatu siklus pengembangan teknologi dengan alih daya secara bertahap, standarisasi sistem yang ada juga merupakan faktor sukses dan diterapkan pada seluruh sistem yang ada seperti sistem respon, ketersediaan fungsi layanan responsive terhadap permintaan sistem dan lainnya.

  • Batasan dari fungsi alih daya

Perusahaan dapat melakukan alih daya sebagian besar fungsi IT nya. Untuk menentukan batasan diperlukan suatu diskusi dan pemikiran yang matang. Salah satu pertanyaan yang diperhatikan adalah : apakah porsi dari tujuan IT yang akan di alih daya kan dapat dipisahkan dari sistem dan infrastruktur klien ? Jika hal tersebut mungkin maka hal yang diperhatikan adalah apa biaya pemeliharaan dapat di atur ?  

  • Ekspektasi biaya yang dapat di hemat

Hal yang penting dari keduabelah pihak adalah kesepakatan biaya yang dapat di hemat, harga yang akan disepakati dan bagai mana biaya dan keuntungan di bagi antara perusahaan dan penyedia jasa alih daya. Hal-hal tersebut sebaiknya disebutkan secara tertulis pada kontrak.

Penutup

Model layanan alih daya dibidang teknologi informasi mulai berkembang di abad 21. Perusahaan melakukan fungsi IT dari luar perusahaan dan bermitra dengan penyedia layanan alih daya untuk mengembangkan dan memelihara aplikasi ataupun infrastruktur teknologi informasi yang dimiliki.


Daftar Pustaka

Applegate, Lynda M, et al,”Corporate Information Strategy and Management”, McGraw-Hill International, Eight Edition

Oleh: hnindito | November 28, 2009

Database Arsitektur : Memory

 

 

Dalam artikel ini saya mencoba untuk menjelaskan struktur memori dari database Oracle, hal-hal yang diungkapkan adalah kegunaan dan juga cara untuk melakukan pengecekan terhadap objek-objek yang ada.

Berikut ini adalah komponen-komponen SGA :

Shared Pool

Yang digunakan untuk penyimpanan :

  • Perintah SQL yang paling akhir dijalankan.
  • Perintah data Definition yang digunakan paling akhir.

 

Terdiri dari 2 key, Performance yang berhubungan dengan Struktur Memory :

-     Library Cache

   => Menyimpan seluruh statement yang telah dipakai di dlm Memory

        Ex : Select

     

-     Data Dictionary Cache

   => Menyimpan seluruh object-object di dalam Database yang

        pernah dipanggil ke dalam Memory

        Ex :  Table

 

SQL> select empno, ename, sal from emp;

 

Ukurannya di tentukan dengan Parameter : SHARED_POOL_SIZE

SQL> show parameter shared_pool_size;

 

Database Buffer Cache 

Befungsi untuk menyimpan data dalam block.

 

Ukuran 1 Block ditentukan oleh = db_block_size

SQL> show parameter db_block_size;

 

Total block ditentukan oleh parameter = db_cache_size

SQL> show parameter db_cache_size;

 

Redolog Buffer 

Menyimpan Perubahan-perubahan dari data

 

Ukurannya ditentukan oleh log_buffer;

SQL> show parameter log_buffer;

 

Large Pool (Optional di SGA)

Digunakan ketika :

1.  Menggunakan Shared Server

2.  Backup & Restore menggunakan RMAN

3.  Proses secara Paralel

 

Java Pool (Optional di SGA)

Dipakai jika menggunakan Bahasa / Applikasi Java

 

Streams Pool

Digunakan untuk Replication dan bisa multiple target.

 

Berikut ini merupakan Background Proses :

 

1.  Database Writer (DBWn)

     (Menyalinkan isi dari Database buffer cache ke datafile)

 

     – Ketika Terjadi Checkpoint.

     – Terjadi Banyak Dirty Buffer

        (Block2 didalam buffer yang mengalami perubahan)

     -  Tidak ada buffer kosong.

     -  Setiap 3 Detik.

     -  Terjadi Ping dari Server lain.

     -  Ketika Tablespace-nya dibuat Offline.

     -  Ketika Tablespace-nya dibuat Read Only.

     -  Ketika Tablenya di Drop (Hapus) atau di Truncate

     -  Ketika Backup Online (Tablespace begin backup)

 

2.  Log Writer (LGWR)

     (Menyalinkan isi dari Redolog Buffer ke Redolog file)

 

     -  Ketika Commit;

     -  Ketika 1/3 Penuh

     -  Ketika Isinya mencapai 1 MB

     -  Setiap 3 Detik

     -  Sebelum DBWn-nya bekerja.

 

3.  System Monitor (SMON)

     – Untuk Instance Recovery

       *  RollForward –> Melanjutkan Proses Commit.

       *  Rollback       –> Undo proses yang belum sempat dicommit;

     -  Menggabungkan Free Space (Spece yang kosong)

     -  Menghapus isi dari temporary segment.

 

4.  Proses Monitor

     (Berfungsi untuk menghapus proses yang gagal)

     -  Merollback Transaksi

     -  Lock-nya akan dilepas.

     -  Resource-nya akan di Hapus.

     -  Dispacternya akan di Restart.

 

5.  Checkpoint (CKPT)

     (Berfungsi untuk singkronisasi seluruh datafile dgn Control File)

      -  Untuk DBWn.

      -  Update Header datafile dengan informasi Check Point.

      -  Update Control File dengan Informasi Check point

 

SQL> select name, DESCRIPTION

          from v$bgprocess

          where paddr != ’00′;

 

Checkpoint bekerja

1.  shutdown N/I/T

2.  log switch

3.  dilakukan secara manual (alter system checkpoint)

4.  ketika dbwr bekerja menuliskan isi dari database buffer cache ke

     datafile

 

      SQL> col name for a55

      SQL> select name, checkpoint_change#  from v$datafile;

 

      SQL> alter system checkpoint;

 

      SQL> select name, checkpoint_change#  from v$datafile;

 

      SQL> select * from v$log;

 

      SQL> alter system switch logfile;  –> 2X

 

      SQL> select * from v$log;

 

      SQL> select name, checkpoint_change#  from v$datafile;

 

« Tulisan Baru

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.